Rabu, 26 Januari 2011

Mbah Pertiwi, Pak Kartanegara dan 27 anaknya…

kriiieeeekkk, blugh!….kusandarkan sepeda reyotku ditengah tumpukan kardus berharga 1500 per lembarnya itu. Letih, tubuhku kurebahkan begitu saja disebelahnya seolah tempat itu adalah sofa terempuk yang pernah ada. Setelah kuambil cangkir-ku dan mereguk sisa-sisa ampas teh tang

terakhirku, kutengadahkan kepala ke atas atap seng bekas pembangunan mall yang kubeli 1 tahun yang lalu. Disana, jauh diatas sana mengintip cerahnya langit yang bertabur bintang malam ini, kupejamkan mata sejenak dan kuhela nafas….

”huff…..kapan semua ini akan berakhir”, pikirku…

”tapi kamu sudah berjanji untuk membawanya kembali min” suara satunya mencoba mengatakan kepadaku.

“tapi…tapi…aku sudah mulai lelah dengan pencarian ini”….suara itu mencoba kembali menguak realita perjalananku satu setengah bulan ini.

“bagaimanapun, kamu tidak boleh menyerah begitu saja, kamu harus kuat parmin….” Timpal satunya berusaha menguatkan keyakinan atas prinsip dan idealitaku.

“Aaarggghhh…..!!!” kubanting topi butut yang sedari tadi nangkring diatas kepalaku…”pusiiinnggg…”, kelebat demi kelebat pikiran seolah memberikan pertimbangan akan keberadaanku ditempat ini dan keputusan akhirku nanti.


Kupandangi lagi langit dari balik celah atap seng itu, kuteringat kembali alasan utama, satu satunya alasan kenapa aku ada ditempat kumuh ini. Seorang nenek tua, reyot, bungkuk….wanita dengan senyum termanis yang menampakkan merahnya bibir karena daun sirih dan gigi ompongnya itu. Seorang wanita bernama “mBah Pertiwi”…..

***

Tak ada yang pernah tahu kapan dan dimana dia lahir dan tinggal. Yang jelas, dia mengerti benar kala kumpeni –begitu dia menyebutnya – masih bercokol di Negara ini. Hari harinya dipenuhi dengan cerita, dan sirih yang tak pernah lepas dari mulutnya. Kadang gelak, tawa, tangis, sedih dan gembira bercampur dan berbaur dengan raut mukanya seolah ia kembali ke masa mudanya, yah…bisa dilihat, ia merindukan hal itu. Rindu sebagai seseorang yang dikelilingi orang orang yang menyayanginya, mempedulikannya dan menganggapnya. Hanya ceritanya itulah yang mampu ia sandarkan sebagai obat pelipur lara kala kesendiriannya.

Setidaknya Hal itulah yang aku perhatikan, kecil, kumuh dipojokan mall yang begitu angkuhnya berdiri, kontras sekali. Beralaskan Koran dengan pakaian kebaya khas jaman dulu yang telah menunjukkan guratan usangnya. Duduk dan mengamati lalu lalang kota ini, itulah yang dilakukannya. Kadang ketika banyak anak kecil yang menghampiri, ia mengumbar cerita dan wajah ceria kembali datang menghinggapinya, namun ketika siang menjelang dan tiada lagi anak anak yang datang, wajah sendu itu kembali datang. ia hanya duduk, tidak menengadahkan tangan tanda meminta seolah ia hanya ingin melihat tempat ini. Masih kuingat dua bulan yang lalu, ketika sore itu ia menghardik seseorang karena memberinya selembar uang.

“aku ki dudu wong ngemis…!!!” hardiknya tatkala seorang ibu didepanku bermaksud memberikan selembar uang kertas coklat ditangannya. Si ibu Nampak terkejut dengan sikapnya, niat baik pun diurungkannya sambil memohon maaf kemudian bergegas berlalu dari tempat itu.

Aneh, benar benar aneh…cukup lama kuamati, setidaknya enam hari ia datang ketempat itu, kumuh, kecil dipojokan mall tempat aku biasa menjadi juru parkir. “Kalau bukan belas kasihan dan materi, lalu apa yang ia cari ditempat ini “ fikirku kala itu.

Lalu, ketika sore keenam menjelang dan parkiran pun sudah mulai sepi, aku pun memberanikan diri untuk duduk disampingnya,

“amit mbah, nyuwun sewu…ada yang bisa saya bantu?” tawarku tulus. Iapun hanya tersenyum datar dan kemudian menggelengkan kepalanya tanda tidak ada apa apa yang ia inginkan dariku. Lalu ia membuka mulut dan berkata,

“hmm,tidak le, terima kasih. Tapi kalau thole mau, mari duduk sini…duduk sama simbah ” begitu katanya, dua lambaian dan tiga kali gerakan menyapu lantainya sudah kuartikan sebagai izin darinya untukku mendekat.

“kenapa mbah?”, sambil berkata begitu kulambaikan dua jariku kepada pemilik warung koboi seberang jalan. Aku ingin mendengarkan cerita darinya…

“he heh…nda pa pa le,mungkin aneh bagimu simbah dari beberapa hari duduk disini, simbah Cuma pengen mengingat mbah kakung, itu saja” jawabnya sambil terkekeh. Jujur, tebakan jitunya membuatku malu. Jadi ini alasan dirinya berada disini selama enam hari ini…

“oh, suami mbah maksudnya?” timpalku mencoba mengorek keterangan darinya.

“iya..simbah kangen, sudah hampir 8 tahun kung meninggalkan simbah” tiba tiba raut muka itu meredup sehingga menampakkan kesedihan yang luar biasa. Kesedihan akan kehilangan sesuatu yang dicintainya, dikasihinya dan dijadikan sandaran kehidupannya. Air matanya menetes…..

Lalu aku duduk bersila disampingnya sambil menyodorkan gelas teh tubruk yang dibawa pelayan warung koboi seberang jalan tadi. “minum mbah…” tawarku, aku ingin mendengar lebih banyak lagi…

gelas minum itu pun diterimanya dengan senyuman tersungging di bibirnya, tegukan demi tegukan kunantikan dengan seksama dengan harapan ia akan membuka mulutnya untuk memulai ceritanya lagi.

“Namanya Kartanegara, tahun empatpuluh lima merupakan tahun awal kami merenda kasih saat simbah kakung melamarku…” ia kembali memulai ceritanya sambil menunjukkan sebuah photo lusuh.

“bahagia sekali kala itu le, setelah melalui banyak halangan dan cobaan dalam hubungan kami, mulai dari restu dari orangtua sampai orang orang yang mencampuri hubungan kami, akhirnya kamipun berhasil melengkungkan janur diatap rumah…” sejenak pandangannya menerawang jauh mengingat ingat kembali serpihan serpihan memori masa lalunya yang indah. Akupun meng-angguk.

“Saat itu, simbah yakin bahwa mbah kakung adalah pilihan yang tepat buat simbah. Ia bukan orang yang kaya, bukan pula orang terpandang. Ia hanyalah seorang buruh macul yang kesehariannya hanya dibayar 5 sen, hanya cukup untuk beli beras 1 liter, sayurnya petik dikebun ” ia kembali mengisahkan.

“tapi ada hal lain yang membuat simbah tertarik, dia itu, meskipun hidup mbabu, tapi semangat kerja yang luar biasa dan mentalnya adalah mental seorang pekerja keras bukan mental seorang babu…semangat hidup layak, begitulah simbah menyebutnya. Tidak tergantung dengan orang, tapi selalu berusaha ada untuk orang lain. Mental itulah yang mbah butuhkan untuk hidup keluarga simbah. hidup itu kita yang menjalani, ibarat pisau, sebagus apapun, tergantung pemakainya. Begitupun sebuah keluarga, tergantung nahkodanya…dan mbah tahu dia mampu menahkodainya…”

“hal lain yang simbah ingat darinya adalah kesederhanaannya, ia tidak pernah mau melebihkan dari apa yang diperlukan dan dicukupkan. Ia hanya mengambil sesuai keperluan dan takarannya. Pernah mbah tanya mengapa kalau dia minta dibuatkan minuman hanya selalu ingin tigaperempat gelas saja, tidak lebih. Jawabnya - wetengku ki mung cukup semono, nek kebak ra muat, mengko ndak mung muspro-. Makan satu setengah enthong kecil dan beberapa hal kecil lainnya. Ia hanya ingin cukup, tidak lebih.

Soal anak, Alhamdulillah, perhatiannya luar biasa besar. memang kami diberi kemudahan oleh yang diatas, kami termasuk keluarga besar. termasuk anak angkat, yang ikut simbahmu ada duapuluhtujuh. Ia tidak pernah pilih pilih, sayang pada semuanya dan karena anaknya banyak, maka dulu kami punya cara, yang paling gedhe punya tanggungjawab momong yang paling kecil, nomor dua momong kakaknya yang paling kecil dan seterusnya. Dengan begitu kami lebih ringan. Saat itu benar benar saat yang membahagiakan le….” Sambil begitu, ia mengambil kembali satu tegukan tehnya, memejamkan matanya seolah ia tak ingin pergi dari waktu waktu bahagianya yang telah lalu. Setelah puas bermain dalam dunia khayalnya, Ia kembali melanjutkan ceritanya…

“tapi, semua itu berubah sejak bencana itu terjadi….meletusnya merapi kala itu membawa goncangan yang hebat bagi keluarga kami. Harta benda kami porak poranda tersapu awan panas dan lahar dingin. Lebih lagi, bagi dia, menyapu mentalnya…pekerjaan sebagai buruh macul saat itu tidak laku, abu vulkanik saat musim panas dan kemarau berkepanjangan di tahun tujuhpuluh-an menyurutkan niat dari juragan-juragan tanah untuk mengolahnya. Keluarga kami macet, bingung… Hanya pacul-lah yang kami punya untuk pintu rezeki kami…

Ditengah kebimbangannya sebagai seorang nahkoda, dan tanggungjawabnya sebagai seorang kepala keluarga, ia ditawari oleh seorang temannya modal pinjaman untuk berusaha. Terjepit, tanpa pengalaman dan pendidikan, ia mengambilnya. Julukan kami berubah, menjadi manusia hutang. Beberapa tahun berlalu, hutang demi hutang terus saja melilit kami tiada ampun dan peduli. Lalu julukan kami berubah lagi, menjadi manusia materi.

Iapun berubah. Apa apa, ia ukur dengan uang dan materi. Segalanya harus ada hitungannya…dari manusia sederhana menjadi gila harta. Keluarga kami morat-marit. Kami sering bertengkar, anak anak kami tidak terurus. Beberapa yang tidak betah, minggat entah kemana. beberapa yang bertahan, ia manfaatkan untuk urusan dunianya. Ia membalik dunianya. Anak untuk menambah materinya” tiba tiba air matanya menetes, seolah ia menaburkan garam sendiri pada luka yang ia punyai.

“Pertengkaran terakhir, membuatnya pergi. Simbah sudah tidak kuat, beberapa anak simbah telah minggat, beberapa sakit sakitan, bahkan ada yang sudah meninggal. Bukan materi yang mbah cari, tapi hidup yang tentram. Simbah sampaikan itu, kami bertengkar hebat dan akhirnya ia terpojok, ia pergi tanpa pamit dan tanpa membawa apapun hingga saat ini”.

Ia menghela nafas, berat untuk ia rasakan memang.

“simbah merasa bersalah le…” ia melanjutkan ceritanya.

“karena itulah simbah telah bertahun tahun mencarinya, melihat kembali tempat tempat dimana kami sering datangi mengharapkan bahwa ia ada disana juga…mbah ingin ia kembali, mbah ingin berbakti, surga mbah tak akan terbuka tanpa kuncinya le…” tutupnya sambil menyeka air matanya.

“maafkan simbah le, kalo bicara soal kung simbah rasanya jadi pengen nangis..” ia menambahkan. Jadi begitu rupanya, sungguh seperti sinetron saja. Di usia senjanya yang ku taksir 80 tahunan, seharusnya ia menikmati ketenangan yang ada, tapi yang terjadi malah sebaliknya.

‘hmm…” kuhirup nafas dalam dalam sampai akhirnya aku memutuskan…

“baiklah mbah, ngaten mawon…simbah pulang dulu, photonya simbah kakung sini saya bawa, biar saya bantu nyari…nanti saya kabari kalo ada nggih…saya kan masih muda mbah, sendiri juga, masih banyak teman, masih bisa kemana mana…” begitulah akhirnya putusku.

“benar le?” ia mencoba mencari jawaban dimataku seolah keputusanku tadi tidak cukup memberikan ketegasan baginya. Aku pun mengangguk dengan yakinnya.

Ia menyodorkan sebuah photo seorang kakek tua ompong berpeci sambil berkata “jangan sampai hilang ya le, ini satu satunya yang mbah punya sekarang…”

***

Suara adzan dan kokok ayam terdengar sayup sayup dan telah menyadarkanku, masih disamping sepeda reyotku ditengah tumpukan kardus berharga 1500 per lembarnya, yang seolah tempat itu adalah sofa terempuk yang pernah ada. Aargh, aku tertidur rupanya…keletihan dalam pencarian membuat tenagaku benar benar habis. Segera kuambil air wudlu dan kutunaikan shalatku, walaupun miskin harta, aku tak ingin miskin jiwa.

Setelah shalat dan mengaji satu “ngain” istilahku untuk satu “ruku’” dalam al-qur’an, lalu akupun duduk dibalai balai depan rumah seng-ku sambil menyeruput teh panas yang baru saja kubuat tadi. Mengepulnya asap teh menimbulkan aroma dan sensasi rasa yang luar biasa di pagi ini, segar dan penuh gairah. Aku kembali memikirkan soal mbah tiwik, bagaimanapun juga aku harus membantunya. Sudah terlalu lama ia menderita, sudah terlalu lama ia sebatang kara.

Satu tegukan lagi dalam teh panasku yang masih mengepul menimbulkan sensasi dan senyum kepahaman diwajahku. Memang gusti alloh itu maha adil, membangun sebuah keluarga, sama saja dengan membangun sebuah Negara dan sebaliknya…berpikir sederhana, membangun sebuah Negara itu tak ubahnya seperti membangun sebuah keluarga. Titik point terpenting dalam membangun Negara adalah adanya kepala negara yang mampu menahkodai, dan penumpang yang percaya padanya. Tidak cukup hanya itu saja, keduanya harus saling menjaga.

Jadi ingat masa kecilku dulu, ketika ditanya oleh bu tuginem, guru SD yang jadi favoritku karena parasnya yang cantik…

“mau jadi apa kalau sudah besar nanti min?”

“mau jadi Duta Besar buu…”jawabku tegas…

Senyum lagi, Inilah kesempatanmu min, hatiku berkata kepadaku. Jadilah Duta Besar sekarang, bantulah Negara kecilnya utuh kembali…ia hanya ingin itu, Negara yang punya presiden; Presiden tegas yang apa adanya, mampu mengupayakan kesejahteraan lahir bathin negaranya, menyatukan kembali ego dari tiap anak anaknya…Negara yang ingin tenteram kembali, tanpa hutang, materialisme dan intrik politik didalamnya. Walaupun sederhana, tapi mulia…”biar miskin asal tenteram, daripada kaya tapi harus mbabu pada yang kasi modal” begitu timpal mbah tiwik kala itu. Mungkin mbah pertiwi bukan seorang negarawan, tapi jelas ia pahlawan. Bagiku siapapun yang berjuang demi suatu keyakinan dan kebenaran, itulah pahlawan. bukan seseorang yang hanya mencari sensasi dan keuntungan ditengah pergolakan, cuih…!!!

Dan pagi pun kembali memberikan senyumnya padaku, ketika kuteguk kembali teh panasku yang entah kesekian kalinya, saat itu pula sinar mentari merekah merah dari ufuk timur seolah memanggil dan menguatkan azzamku untuk bergegas mengawali lagi pencarian ini. Segera kumasukkan kedalam tas, photo seorang kakek tua ompong berpeci yang kudapat dari mbah tiwik. Sambil berucap bismillah, kulangkahkan kaki menuju sepeda onthelku sebelum tiba tiba ada suara ketukan dipintuku, dan disana ada seorang laki laki tua peminta-minta, berbaju lusuh, ompong dan memakai peci hitam….

(Yogyakarta, 26 Januari 2011)

Senin, 18 Oktober 2010

Hutang Indonesia, Gitu aja kok repoot....

Berbicara tentang Indonesia dan hutang, maka kita berbicara mengenai sebuah jalinan benang kusut yang semakin ditarik, makin kusut dan menjerat. Tidak mudah memang berbicara mengenai hutang Indonesia, apalagi dikaitkan dengan kemiskinan. Banyak hal terkait disana, teori, lembaga, kebijakan, konflik interest dan sederet hal lain yang menjadi premis dari hutang dan kemiskinan Indonesia. Susah membahasakan, begitulah kiranya kata yang tepat untuk menggambarkannya. Tulisan ini akan saya mulai dengan beberapa pertanyaan retoris seputar realitas hutang Indonesia;

Pertama, Tahukah kita, bahwa tingkat hutang luar negeri kita, - baik dari sejak konvensi KMB di deenhaag belanda yang memutuskan bahwa Indonesia menanggung hutang luar negeri hindia belanda untuk pengakuannya sampai dengan tegaknya pemerintahan SBY kali ini – ternyata telah melampaui level batas aman (angka psikologis aman adalah 30% - 40% PDB) ? yang berarti bahwa hutang Indonesia meski dihitung dari nilai produksi total, baik dari hutang maupun modal sendiri, sungguh telah akut???

Kedua, Tahukah kita, andaikan dalam kondisi normal, stabilitas Negara terjamin, tidak ada lagi hutang luar negeri dan tidak ada kewajiban lagi untuk membayar bunga atas hutang yang lalu, Indonesia memerlukan waktu minimal 100 tahun untuk mengembalikan hutang Luar Negerinya? (hutang LN Indonesia sekarang sekitar 2.000 Trilyun,data januari 2010 dengan kemampuan membayar per tahun 15-20 trilyun;data Bank Indonesia_Red;nyari datanya susah nih…)

Ketiga, Tahukah kita, utang luar negeri kita memakan porsi yang besar dari cadangan devisa (sekitar 25 – 30 %) sehingga stabilitas makro kita berada pada posisi yang sangat rentan ?

(Cadangan devisa (Bahasa Inggris: foreign exchange reserves) adalah simpanan mata uang asing oleh bank sentral dan otoritas moneter. Simpanan ini merupakan asset bank sentral yang tersimpan dalam beberapa mata uang cadangan (reserve currency) seperti dolar, euro, atau yen, dan digunakan untuk menjamin kewajibannya, yaitu mata uang lokal yang diterbitkan, dan cadangan berbagai bank yang disimpan di bank sentral oleh pemerintah atau lembaga keuangan.)

Keempat, Tahukah kita bahwa lebih dari 25% APBN kita, termasuk didalamnya PPh dan PPN yang susah payah dibebankan kepada masyarakat ternyata digunakan untuk membayar hutang LN pemerintah tersebut?

Dan terakhir, tahukah kita bahwa untuk mengatasi Load Hutang Indonesia yang sudah menggelembung demikian besarnya, pemerintah menerapkan kebijakan penjadwalan ulang hutang terus-menerus yang berarti bahwa hutang tidak terbayar ini diestafetkan dari generasi ke generasi (belum ditambahkan dengan hutang tahun berjalan pemerintahan)?

Lima pertanyaan retoris tadi kira kira tellah memberikan gambaran terhadap kondisi Negara kita berikut dengan hutang dan implikasi yang menyertainya. Rasio Hutang luar negeri Republik Indonesia terus membumbung tinggi. Data Bank Indonesia (BI) mencatat, Januari 2009, nilai utang luar negeri Indonesia baru sebesar 151,457 miliar dollar AS dan sampai akhir Januari 2010, utang luar negeri mencapai 174,041 miliar dollar AS. Bila dikonversi ke dalam mata uang Rupiah dengan kurs Rp 10.000 per dollar AS nominal utang itu hampir mencapai Rp 2.000 triliun. Sedangkan saat ini, Kemampuan pemerintah untuk Membayar Hutang Luar Negeri hanyalah berkisar 20 Trilyun per tahun, artinya perlu 100 tahun dalam kondisi normal untuk membayar hutang Luar negeri Indonesia. Dan hutang ini akan terus bertambah ketika setiap pemimpin haya memikirkan masa periodik kepemimpinannya saja. Artinya, diperlukan sebuah model manajemen hutang yang benar benar integral dan terukur, sedikit radikal memang tapi akan baik untuk kedepannya sehingga hutang Negara Indonesia tidak lagi menjadi hutang turunan.

Pemerintah, dengan kebijakan Ekonomi Makro model klasik beranggapan bahwa untuk menstabilkan kondisi, tolok ukur yang dipakai adalah debt ratio (rasio hutang; outstanding hutang/PDB), artinya bahwa jika debt ratio terlalu tinggi maka penjadwalan ulang hutang diperlukan sehingga hutang diperpanjang, dan menaikkan PDB. Hal ini berlaku untuk semua hutang, jangka pendek, panjang, dalam maupun luar negeri. PDB yang tinggi menandakan kemakmuran bangsa. Benarkah???

Kebijakan lain lagi, pemerintah mengalokasikan lebih dari 25% APBN untuk pembayaran hutang dan bunga hutang Luar Negeri. Sungguh sangat ironis mengingat Pajak yang dibebankan terhadap masyarakat digunakan sebagian besar untuk pembayaran hutang (ingat biaya pendidikan yang 20% saja sekarang memiliki efek yang luar biasa??, coba kalau yang digunakan membayar hutang itu untuk kepentingan kemanfaatan bangsa…). Memang hutang memiliki jatuh tempo, tapi soal penganggaran pembayaran hutang, kita harusnya lebih paham terhadap kebutuhan dapur kita dahulu.

Paradigma inilah yang perlu diubah. Secara teori memang kebijakan kebijakan tersebut tampaknya benar, akan tetapi jika ditinjau dari aspek tekhnis maka hal tersebut kurang tepat. Pendekatan diatas mengabaikan fakta bahwa hutang dan pembayaran hutang pemerintah selalu mempunyai konsekwensi keadilan sosial, baik antar kelompok masyarakat maupun antar generasi. Misal : apakah hutang yang lebih besar dan semakin besar benar benar akan menjamin kesejahteraan masyarakat secara umum dan merata? Atau hanya pihak kapitalis saja yang memanfaatkannya? Faktanya, Data ICW mengemukakan bahwa meskipun hutang bertambah, masyarakat bawah semakin terperosok secara kesejahteraan, siapa yang salah??? Lagi, mengenai pembayaran hutang, tidak adanya batasan minimum dana untuk pembayaran hutang (hanya ngenut saja) menyebabkan bangsa ini kurang mendapatkan dana untuk pembangunannya sendiri, karena lebih dari 25% APBN digunakan untuk Pembayaran hutang, porsi pemanfaatan untuk kegiatan kesejahteraan masyarakat terbatasi. Kebalikk??? Yaa!!! Seharusnya kita menjadwalkan dahulu anggaran untuk kebutuhan dapur kita baru untuk pembayaran hutang. Itu akan lebih bijak dan adil terhadap bangsa ini.

Memang, kita dididik untuk tidak menjadi bangsa pengeluh ditengah carut marutnya bangsa ini, ada beberapa solusi sebenarnya terkait permasalahan hutang turunan kita.

Pertama, Pengurangan Tingkat Hutang Luar Negeri, Sekali lagi Tingkat Hutang sehingga lebih terkendali (suistinable), yang mencakup membatasi jumlah hutang (lagi) dan mengurangi hutang yang sudah ada, banyak jalan sebenarnya. Negara kita kaya akan SDA, Optimalisasi internal adalah kuncinya.

Kedua, Berlaku Bijak terhadap pembayaran Hutang Luar Negeri yang sudah ada. Membatasi rasio pembayaran hutang hingga titik terendah sehingga APBN bias optimal digunakan untuk kepentingan dan kesejahteraan bangsa ini. Agar pemanfaatannya benar benar digunakan untuk sektor internal yang memiliki multiplier output, pendapatan dan kesempatan kerja yang besar.

Ketiga, dari sisi pemanfaatan hutang, menekan bahwa pemanfaatan hutang LN hanya untuk hal yang sifatnya produktif bukan konsumtif. Pengendalian pemanfaatan hutang, bukan pengendalian hutang, itu kuncinya.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai setiap hasil dan usaha bangsa itu sendiri…...bukan besarnya utang yang memiskinkan kita sendiri, gitu aja kok repoot..... ^_^

(berbagai sumber, mr.husni_talented@yahoo.com, 18102010;13.30)

Sabtu, 16 Oktober 2010

Aku, Cerita dan Permata Manikamku...


Cerita#1; Seminggu yang lalu tepatnya, sabtu cerah yang dinantikan hampir separuh warga bantul yang ikut bersamaku berkendara melewati jalan imogiri timur menuju Kota Yogyakarta. Wajah wajah sumringah yang kulihat hanya sekali dalam seminggu ditengah tempaan nasib dan teriknya mentari yang tak henti hentinya memukul mukul wajah wajah tua itu menjadi pesona tersendiri ditengah tengah perjalanan menuju tempat kerjaku tiap hari sabtu, ya…hanya hari sabtu kutemukan aura seperti ini. Senin, selasa bahkan sampai jumat tak pernah kutemui tatapan mata dan senyum misteri seperti ini, entahlah…mungkin kalau diatas kepala tiap manusia yang kutemui ini ada layar LCD flat Panasonic ataupun kamera hologram yang mampu menampilkan isi cerebrum mereka, mungkin akan terkuak misteri dibaliknya, entah itu berupa baju baru buat sang isteri, jatuh tempo hutang yang akhirnya bisa terbayarkan separuh pada pekan ini ataupun mainan buat anaknya yang telah satu bulan ia tunda membelinya.
Senyum itu begitu misterius sampai seolah mereka mengumandangkan koor yang begitu padunya, bahwa “senyum sabtu ini hanya milik saya seorang”..senyum sabtu yang memberi dan membeli kebahagiaan. Mereka memang “hanyalah” buruh kasar pekerja yang tidak seberapa hasilnya dibandingkan dengan pejabat ataupun pegawai kantoran. Tapi senyum itulah yang membuat mereka laksana malaikat bercahaya dibalik bungkusan legamnya kulit dan kasarnya tangan-kaki mereka, seolah senyum kala sabtu itu bersuara “hari ini, aku akan mendapatkan hak ku, kerjaku, hasil keringatku, untuk kebahagiaanku dan rumah tanggaku…..”. senyum itulah yang lain, senyum tanpa keluhan sedikitpun seolah enam kali tigapuluhlimaribu rupiah itu benar benar cerminan tetes tetes berlian yang harus ia pertahankan dan dapatkan untuk membeli seonggok kebahagiaan untuk sepekan kedepan. Sungguh sebuah cerminan sederhana dari sebuah penghargaan yang luarbiasa terhadap sebuah pekerjaan, tanggungjawab, kewajiban dan hak yang harus didapatkan atas apa yang telah ia lakukan…

***
Cerita#2; Masih kuingat juga kala itu, bersama si ASS00YY, sebutan untuk motor tuaku, dijalanan imogiri timur yang cukup ramai. Disebuah perempatan tempatku berhenti lampumerah telah bersinar dengan angkuhnya dengan angka 112 dipucuk tiangnya. Disamping kiriku tampak sebuah sepeda motor terbaru model sporty, shock depan diturunkan dan shock belakang yang meninggi ditambah dengan cakram depan belakang dan beberapa aksesori tambahan diluar sparepart toko serta kemulusan body, seolah menegaskan bahwa pemiliknya memiliki jiwa muda yang gaul abis dan dari kalangan yang cukup berada. Memang, pengendaranya adalah anak SMA. Usia 17 tahun kutaksir. Seragam abu abu putihnya yang sudah mulai tidak standar, celana dibuat model junkies dan baju yang digulung, membuat otak analitikku menginformasikan bahwa anak ini berada bukan pada tingkat satu SMA, mungkin tingkat dua atau tiga yang sudah terkena dampak “Ngeyelisasi” sebagai akibat dari “Unjuk Eksistensi”. Wajar, bathinku…tokh, aku juga pernah Es Em U dan pernah mengalami seperti itu.
Singkat cerita, tiba tiba, disebelah kirinya, bermaksud seorang ibu berkebaya dengan menjinjing “kronjot” (tempat sayuran) diatas sepeda onthel luwuknya –yang pastinya bukan gazelle- hendak mendahului si anak 17 tahun tadi. Tanpa sengaja dan diduga, sedikit dari kronjotnya mencolek body motor baru si anak muda. Tiada bergores memang kulihat, tapi berasa.
Si anak muda melihat ibu tua berkebaya, dan ibu tua pun melemparkan senyum termanis dan tunduk hormatnya sebagai pengganti kata “ maaf saya telah menyenggol motor barumu ya nak, tidak sengaja”. Namun apa yang terjadi sungguh diluar dugaan, motor baru meraung raung dengan garangnya diikuti pandangan mata tuannya yang seakan membalas senyuman tadi dengan kata ”wuuu, ngawur kii…!!!”. Ibu tua berkebaya terkejut, sepeda terlepas dari genggamannya dan jatuh seketika.
Si anak muda puas dengan tingkahnya. Melihat angkuh kedepan seolah dia adalah pemenang piala dunia. Yang ia pikirkan adalah bahwa ia telah membalas ibu tua berkebaya yang telah menyenggol motor barunya, tanpa pernah berpikir bahwa ia berada pada jalur sepeda, jalur hak ibu tua. tanpa pernah ia berpikir bahwa ibu itu orang yang lebih tua, tanpa pernah berpikir bahwa ibu tua berkebaya itu juga manusia dan tanpa berpikir bahwa sepeda dan kronjot tua itu adalah penyambung hidup dari sebuah keluarga.

***

Cerita #3; Kelulusan kuliah selalu dinantikan setiap mahasiswa di kampus, begitu juga denganku. November 2007, momen yudisium yang bersejarah buatku kala itu. Dengan jas pinjaman seharga 75.000 disebuah salon, kuberdiri laiknya presiden membuka pidato kenegaraan. Dengan beberapa seremonial kampus, akhirnya upacara pun selesai. Setiap mahasiswa diperkenankan pulang.
Ku melihat seorang kakek, berpeci kusam dengan guratan otot dan keriput di kulitnya yang menunjukkan bahwa ia telah lanjut usia, berjalan tertatih (karena memang sudah agak bungkuk), mendekati, menyalami dan memeluk kerumunan dosen yang masih tertinggal disana dengan penuh rasa hormat. Senyum bahagia diwajahnya menggambarkan bahwa rasa terima kasihnya tidak terkira kepada mereka. Bahwa cucunya akhirnya bisa menjadi seorang sarjana, bahwa biaya yang dikeluarkan walau harus menggadai tanah akhirnya tidak sia sia, bahwa mereka telah berhasil mendidik dan mengantarkan cucunya….. Tunggu dulu mana si cucu??? Ia berjalan dengan enggan mengikuti tarikan tangan semangat kakeknya, menyalami dosen sekedar basa basinya dengan senyum manis dibuat-buatnya. Ia masih ingat, nilai nilai yang diberikan dosen dosen tersebut tak pernah memuaskannya, hanya seputar C dan D bahkan ada yang K sehingga harus diulangnya. “ tokh ngapain aku harus berterima kasih kepada mereka…” begitu mungkin pikirnya. Ia lupa, bahwa selama 5 tahun dosen dosen tersebut mendampingi dan membimbingnya, berembug dan mati matian mengusahakan yang terbaik untuknya, tambahan nilai dan katrolan sampai ia memiliki gelar sarjana. Ia lupa, nilai C yang diterimanya telah membutakan 5 tahun kasih sayang, usaha dan pengabdian mereka untuk pendidikannya…

***

Cerita#4; Jakarta, 2009. Masa pencarian kerja. Ditengah pergolakan pencari kerja di tanah rantau yang begitu hebatnya,temanku mengajak makan di sebuah angkringan diseberang restoran hanamasa (restoran jepang dengan sistem all u can eat dengan membayar charge untuk 1x makan).
Dekat dengan restoran itu, ada seorang peminta-minta yang duduk beralaskan kardus bertuliskan sebuah merk mie instant dengan tangan yang seolah telah distel seorang mekanik canggih untuk menghadap ke atas tanpa bergerak sedikitpun. Khidmat seolah sedang menantikan datangnya sebuah mukjizat yang akan mengisi kekosongan diatas nampan.
Dan kejadian pun dimulai, Serombongan gadis muda belia yang sibuk membicarakan pelayan restoran yang ganteng dengan potongan harajuku-nya lewat saja didepan peminta minta tanpa sedikitpun menoleh ke hadapannya. “Satu…” bathinku saat itu…Beberapa menit kemudian, Lewat beberapa orang kantoran lagi yang sepertinya tengah selesai acara ulang tahun disana -berbicara tentang sushi dan sashimi yang mereka makan tadi begitu lezatnya- satu diantaranya, melihat sekilas dan akhirnya lewat saja didepan peminta minta….”dua” bathinku…. Terakhir, keluar dari restoran itu sepasang muda mudi, melihatnya dan si laki laki mengeluarkan dompet dari sakunya, lama ia memilah dan memilih- sampai akhirnya ia menemukan yang dicarinya, sebongkah 500 perak yang ia selipkan tadi. Dan mereka berdua-pun pergi…mereka semua, entah tak mengerti atau telah menjadi kebiasaan diri, didalam hanamasa tadi, mereka mengeluarkan ratusan ribu untuk makan sekali….dan 500 Perak untuk seorang peminta minta yang telah tidak makan nasi selama tiga hari….Sampai akhirnya ada seorang kakek tua yang duduk disampingku menghampirinya dan memberikan dua bungkus nasi kucing-bukan sushi ataupun sashimi yang berharga ratusan ribu- cukup nasi bungkus berharga duaribu perak ternyata mampu melebarkan senyum bahagia sang peminta-minta.
kalau begitu, disebut murah atau mahal-kah kepedulian itu….???

***

Teman, ini adalah kisahku, bukan kisahmu, bukan pula kisahnya ataupun mereka. Aku hanya berbagi cerita sederhana yang terjadi disekitar kita. Cerita tentang penghargaan terhadap hasil usaha, rasa hormat dan keramahan, terima kasih atas pengabdian dan kepedulian akan kehidupan orang lain. Beberapa hal yang dulu merupakan adat kebiasaan yang sekarang bak permata manikam, mahal dan tidak setiap orang mampu untuk memilikinya. Ataukah memang hal tersebut memang telah terkubur oleh longsoran tanah globalisasi yang begitu dalamnya sehingga hanya yang memiliki mata bur keikhlasan tajam yang mampu menggalinya?
Disini kuceritakan dan jika kuceritakan maka akan ku pikirkan -kuharap kau pun begitu kawan- sebuah adat ketimuran, kearifan lokal yang membesarkan bangsa ini bermula dari hal yang sangat sederhana. Sebuah kata bernama “Penghargaan”. Adat ketimuran begitu meng-agungkan penghargaan, Penghargaan yang menjelma dalam tiap sendi kehidupan dengan berbagai transformasi bentuknya. entah itu menjadi lebarnya senyuman, penghormatan, kesyukuran bahkan pemberian. Teringat kata ibuku dahulu,

”kabeh kui ono ajine le, mengkono iku dasare ngajeni, nek kowe wis iso ng-aji sawijining urip, ajenono gek undhuhen wohing diajeni tumraping liyan…..”

(semua itu pasti ada harganya nak, itulah dasar mengapa kita harus menghargai, kalau kamu sudah bisa memberi nilai terhadap kehidupan ini, hargailah hal itu, dan petiklah penghargaan yang sama dari nya…)

dan tiba tiba empat kelebat bayangan-pun lewat didepanku, kayuhan sepeda kala sabtu, ibu tua berkebaya dan anak Es Em U, si kakek, dosen dan si cucu, serta pengemis dan pak tua disampingku……akupun haru dan tersipu, berusaha mencari dimana permata manikamku….
(Imogiri, 15102010;02.29pagi; By : mr.husni_talented@yaho.com )

Senin, 17 Mei 2010

“MATAHARI DIATAS KIBLATKU….”


Subhanallah, kantor masih sepi, baru juga jam 6 pagi, pak bon pun baru siap siap mo nyapu ma cuci mobilnya kantor, he he… pagi pagi gini dah bisa bisanya nyampe t4 kerja, teladan?? Ga juga. Kebetulan habis nganter kakak ke bandara, take off jam 6.15 jadi harus pagi bener berangkatnya. Ngeliat kantor masih sepi, iseng iseng buka Facebook dan blog, ternyata dah lama juga ga ngupdate Blog ma FB dengan sesuatu yang bisa ngasi manfaat, ga tau nih tiba tiba aja pengen update Facebook dan “Blog yang dah lama dianggurin Sejak masih kuliah”….

Tiba tiba teringat sama bahan yang diminta nyariin kasubagku kemaren tentang ajaibnya tanggal 27-28 mei besok, kenapa? So simak yaa….

Melihat materi yang kemarin tak dapat, subhanalloh, berkali kali bibir ini mengucap tasbih atas kebesaran alloh dalam menciptakan sesuatu….betapa tidak, alloh menciptakan segala sesuatu itu tidak pernah tanpa maksud, dan keyakinan itu bertambah ketika kita semakin memahami arti dan manfaat atas keberadaan dari “hal” yang Dia ciptakan tersebut…(jujur bro, aq jadi malu sendiri ketika mengingat pujian yang terlalu tinggi atas makhluknya, dan hinaan yang berlebih atas kejelekan yang dimiliki suatu bentuk…he he… astaghfirullah…). Btw, Ngomong2 kita akan bicara apa sih?

Matahari, sebuah komponen penting tata surya kita ternyata masih menyimpan segudang manfaat atas kelebihan yang telah diberikan sekarang ini. Bukan hanya untuk mengeringkan baju de el el aja tapi lebih dari itu, matahari bisa juga berguna untuk mengecek kembali arah kiblat kita….at the right time, at the right placetiap orang bisa ngelakuin itu guys….tua, muda, kakek, nenek, nyak, babe, mo yang pake celana panjang atopun yang pake sarung, mo orang yang islamnya dah apal 40 juz…(emang ada???) ato yang baru iqra’ 4 nya as’ad humam, mo yang kitabnya baru jurumiyah, alnbangi rosa’il ato yang udah khatam kitab tebelnya al ghazali….mo yang baju gamis dan jilbabnya selutut atopun bahkan yang roknya masih selutut (^_^v)……semua bisa…!!!

Kita mulai dari mengenal posisi matahari, Kita mengenal matahari bergerak secara semua dari Timur ke Barat setiap hari, dan juga dari Utara ke Selatan atau sebaliknya dalam kurun waktu setahun. Naah…..Para ahli astronomi telah menghitung perputaran bumi dan telah memastikan bahwa semua tempat di muka bumi yang berada di antara 22,5 derajat lintang Utara dan 22,5 lintang Selatan (ada yang menyebutkan antara 23,5 derajat) pasti akan dilewati oleh matahari, dua kali setahun, TEPAT DIATASNYA. Meski hanya dalam bilangan menit saja. Remember guys, hanya 2x dalam setaun matahari melewati tepat diatas titik suatu tempat. Tepat jan tepat tenan…meski hanya hitungan menit….. (tu sebagai akibat bumi muter kaya gangsing...). ok, next...

Matahari di Atas Makkah

Kota Makkah pun mengalami saat-saat di mana matahari akan tepat berada di atasnya, dua kali dalam setahun. Yaitu pada tanggal 26 sampai 30 Mei untuk yang pertama dan tanggal 14 s/d 18 Juli untuk yang kedua. Kejadian ini akan tetap terus berlangsung tiap tahun sepanjang masa untuk tanggal-tanggal yang sama.

Bila pada detik-detik matahari sedang berada tepat di atas kota Makkah, maka semua orang yang tinggal di berbagai belahan bumi lainnya yang masih bisa melihat matahari, akan dengan mudah bisa menetapkan posisi kota Makkah. Yaitu cukup dengan melihat posisi matahari berada, karena tepat di bawahnya terletak kota Makkah.

Pada kejadian itu tentu saja Makkah sedang berada dalam posisi tengah hari, nama kerennya istiwa’ azzam; adalah peristiwa astronomis saat posisi matahari berada tepat di titik Zenith (tepat di atas kepala) suatu tempat. Peristiwa ini hanya terjadi di daerah yang memiliki lintang tidak lebih dari 23,5˚ Lintang Utara dan 23,5˚ Lintang Selatan. Naah, Istiwa A'zam yang terjadi di kota Makkah ini dimanfaatkan oleh kaum Muslimin di negara-negara sekitar Arab khususnya yang berselisih waktu tidak lebih dari 5 (lima) jam untuk menentukan arah kiblat secara presisi (inget jarak makkah-indonesia barat sekitar 4 jam, berarti masih bisa menggunakan peristiwa ini).

Yang perlu digaris bawahi. Istiwa A'zam di Makkah terjadi dua kali dalam setahun yaitu pada tanggal 28 Mei sekitar pukul 12.18 Waktu Makkah dan 16 Juli sekitar pukul 12.26 Waktu Makkah. Fenomena Istiwa A'zam terjadi akibat pergerakan semu matahari yang disebut gerak tahunan matahari (musim) sebab selama bumi beredar mengelilingi matahari sumbu bumi miring 66,5˚ terhadap bidang edarnya secara tetap mengarah ke kutub langit sehingga selama setahun dilihat dari bumi matahari mengalami pergeseran ke arah Utara dan Selatan setiap hari.

Khusus untuk waktu Indonesia bagian barat, detik-detik matahari tepat berada di kota Makkah pada tanggal 26 sampai 30 Mei pada jam 16.18 WIB. Sedangkan pada tanggal 14 sampai 18 Juli pada jam 16.27 WIB.

Rentang waktunya hanya sekitar lima menit saja, begitu waktu bergerak lagi, maka posisi matahari akan bergeser lagi, tidak lagi ada di atas kota Makkah.


Cara mengecek arah kiblat


Gini guys, pada prinsipnya simpel kok, tapi metode yang akan tak sampein ini hanya salah satu aja, yang mudah untuk kita tanpa harus ngitung derajat njlimet ato pake alat lain.

ilustrasinya gini, ketika matahari berada diatas makkah (kiblat), maka kita akan bisa melihat arah dari kita menuju kiblat dari bayangan yang jatuh dari matahari yang menyinari (toh dia diatas kiblat, jadi arah yang ditunjuk pasti mengarah ke kiblat).


Yang kita butuhkan cukup tongkat saja....tekniknya seperti ini :


  1. Tentukan lokasi masjid/mushalla/langgar atau rumah yang akan ditera arah kiblatnya.
  2. Sediakan tongkat lurus sepanjang 1 sampai 2 meter dan peralatan untuk memasangnya. Siapkan juga jam/arloji yang sudah dicocokkan waktunya secara tepat dengan radio/televisi/internet/ HP yang memiliki waktu dunia (ini penting untuk kesesuaian waktu dunia, karena toleransi melihat hanya 2-5 menit).
  3. Cari lokasi di samping atau di halaman masjid yang mendapatkan penyinaran matahari pada jam-jam tersebut serta memiliki permukaan tanah yang datar dan pasang tongkat secara tegak dengan bantuan pelurus berupa tali dan bandul (yang penting lurus).
  4. Tepat pada saat istiwa’ azam terjadi amatilah bayangan matahari yang terjadi (toleransi +/- 2-5 menit)
  5. Di Indonesia peristiwa Istiwa A'zam terjadi pada sore hari sehingga arah bayangan menuju ke Timur. Sedangakan bayangan yang menuju ke arah Barat agak serong ke Utara merupakan arah kiblat yang tepat.
  6. Gunakan tali, tembok atau pantulan sinar matahari menggunakan cermin untuk meluruskan lokasi ini ke dalam masjid/rumah dengan menyejajarkannya terhadap arah bayangan (digaris lurus pas bayangan juga bisa ^_^).
  7. Tidak hanya tongkat yang dapat digunakan untuk melihat bayangan. Menara, gedung, tiang listri, tiang bendera atau benda-benda lain yang tegak. Bahkan dengan teknik bandul yang kita gantung menggunakan tali rafia sepanjang 1 meter bayangannyapun dapat kita gunakan untuk menentukan arah kiblat.

Naah, gitu guys cara mencocokkan arah kiblat kita, simpelkan? Semoga bermanfaat yah...(tapi lebih baik kalo setelah dicocokkan, terus cocokkan juga waktu2 shalatnya...he he he...). salam…. ^_^

(By : husni, berbagai sumber)


Catatan : Perlu diketahui sekali lagi bahwa dalam satu tahun istiwa a'zam di kota Makkah terjadi 2 kali yaitu tanggal setiap 28 Mei (untuk tahun kabisat 27 Mei) sekitar jam 16:18 WIB dan 16 Juli (saat tahun kabisat 15 Juli) sekitar jam 16.26 WIB. Namun untuk melakukan penentuan arah kiblat tidak mutlak harus dilakukan pada tanggal tersebut bisa mundur atau maju 2-3 hari karena pergeserannya relatif sedikit yaitu sekitar 1/6 derajat setiap hari. Dan pada tahun 2010 ini, insyaalloh akan terjadi pada tanggal 28 mei, jam 16.18.

Sabtu, 12 Januari 2008

MaWar Mekar, LovE And MarrIeD....


Suatu hari, murid bertanya pada gurunya. “apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya? Gurunya menjawab, “Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta”.
Murid pun berjalan dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan tanpa membawa apapun. Gurunya bertanya, “mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?“, Murid menjawab, “Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik) ,sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi didepan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi baru kusadari bahwasannya ranting-ranting yang kutemui tak sebagus ranting yang kutemui tadi, jadi tak kuambil seranting pun akhirnya” Gurunya kemudian menjawab ”Jadi ya itulah cinta”.
Dihari yang lain, murid bertanya lagi pada gurunya, “Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?” Gurunya pun menjawab “Ada hutan yang subur didepan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan”
Murid pun berjalan, dan tidak seberapa lama murid pun kembali dengan membawa pohon, pohon tersebut bukanlah pohon yang besar / subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.
Gurunya bertanya, “Mengapa kamu memotong pohon yang seperti ini?” Murid pun menjawab, “Sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi kuputuskan untuk menebang pohon ini dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya” Gurunya kemudian menjawab, “Dan ya itulah perkawinan”.
sOBAT fIgHTERs, Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya didalam lubuk hati, ketika pengharapan dan keinginan yang berlebihan akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan. Tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah cinta apa adanya.
Perkawinan adalah kelanjutan dari cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kita mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya, ketika kesempurnaan ingin kita dapatkan, maka sia2lah waktu dalam mendapatkan perkawinan itu, karena sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya..........
cInTA pALING sEMPURNA ADALAH HANYA PADA-NYA, SELALU BERBALAS, TAK MENGECEWAKAN DAN TANPA MEMBUAT SAKIT HATI....
Sobat Fighter's, bukankah cinta illahi itu indah....Raihlah ia...!!! dengan berusaha mendapatkan redhonya dari mencari cinta sesama dan menikah di jalanNya....

CinTa dan PiNta padaNYA....


Allahu Rabbi aku minta izin
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau

Allahu Rabbi
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh

Allahu Rabbi
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan
kasih-Mu
dan membuatku semakin mengagumi-Mu

Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu

Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu...
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu

Amin !

kupu kupu dan sayapnya.....

”Suatu hari, Muncul celah kecil pada sebuah kepompong; seorang pria duduk dan memperhatikan calon kupu2 tsb berjuang keras selama berjam2 untuk mendorong tubuhnya keluar melalui lobang kecil tersebut.”

Kemudian, tampaknya usaha tsb sia sia, berhenti dan tidak ada perkembangan yang bararti.Seolah olah terlihat usaha tersebut sudah mencapai satu titik , dimana tidak bisa berkelanjutan.

Maka, pria itu memutuskan untuk membantu kupu2 itu.

Dia mengambil sebuah gunting dan membuka kepompong itu.Kemudian kupu2 itu keluar dengan sangat mudahnya

Tapi apa yg terjadi? Kupu2 itu memiliki tubuh yg tidak sempurna. Tubuhnya kecil dan sayapnya tidak berkembang

Pria itu tetap memperhatikan dan berharap , tidak lama lagi, sayap tersebut akan terbuka, membesar dan berkembang menjadi kuat untuk dapat mendukung badan kupu2 itu sendiri

Semua yg diharapkan pria itu tidak terjadi !

Kenyataanya, kupu kupu tersebut malah menghabiskan seluruh hidupnya merayap dengan tubuhnya yg lemah dan sayap yg terlipat.

Kupu kupu tsb tidak pernah bisa terbang

Apa yang pria itu lakukan, dengan segala kebaikan dan niat baiknya, dia tidak pernah mengerti, bahwa perjuangan untuk mengeluarkan badan kupu2 dari kepompong dengan cara mengeluarkan seluruh cairan dari badannya adalah suatu proses yang dibutuhkan, sehingga sayapnya dapat berkembang dan siap untuk terbang begitu keluar dari kepompong tersebut,sesuai dengan yang sudah ditentukan oleh-Nya.

Seringkali, Perjuangan adalah sesuatu yg kita butuhkan dalam hidup ini

Jika Alloh SWT memperbolehkan kita melewati hidup ini tanpa cobaan,hal ini akan membuat kita lemah..Kita tidak akan sekuat seperti apa yang kita harapkan, dan tidak akan pernah terbang seperti kupu2 itu.

Kita meminta Kekuatan...dan Alloh SWT memberi kita kesulitan untuk kita hadapi dan membuat kita menjadi kuat.

Kita meminta kebijaksanaan...dan Alloh SWT memberikan kita masalah2 yg harus kita pecahkan.

Kita meminta kemakmuran...dan Alloh SWT memberikan otak dan kekuatan untuk bekerja.

Kita meminta Keberanian...dan Alloh SWT memberi kita rintangan untuk kita hadapi.

Kita meminta Cinta...dan Alloh SWT memberikan orang2 yg dalam kesulitan untuk kita bantu.

Kita meminta pertolongan...dan Alloh SWT memberi kita kesempatan

“ Kita tidak menerima apa yang kita inginkan....,

Tapi kita menerima apa yang kita butuhkan. "

Jalanilah hidup tanpa ketakutan, hadapi semua masalah dan yakinlah bahwa kita dapat mengatasi semua itu...(taken from sof's archive, thank's friend)

Hanya CerItA SaNg KoDoK....


Sekelompok kodok sedang berjalan-jalan melintasi hutan,dan dua di antara kodok tersebut jatuh kedalam sebuah lubang. Semua kodok-kodok yang lain mengelilingi lubang tersebut. Ketika melihat betapa dalamnya lubang tersebut,mereka berkata pada kedua kodok tersebut bahwa mereka lebih baik mati. Kedua kodok tersebut tak menghiraukan komentar itu dan mencuba melompat keluar dari lubang itu dengan segala kemampuan yang ada. Kodok lainnya yang berada diluar tetap mengatakan agar mereka berhenti melompat dan lebih baik mati.

Akhirnya, salah satu dari kodok yang ada di lubang itu mendengarkan kata-kata kodok yang lain dan menyerah. Dia terjatuh dan mati. Sedang kodok yang satunya tetap meneruskan untuk melompat sedapat mungkin. Sekali lagi kerumunan kodok-kodok tersebut berteriak padanya agar berhenti berusaha dan mati saja. Dia bahkan berusaha lebih kuat dan akhirnya berhasil.

Ketika dia sampai diatas, ada kodok yang bertanya, “Apa kau tidak mendengar teriakan kami?”. Lalu kodok itu (dengan membaca gerakan bibir kodok yang lain) menjelaskan bahawa ia tuli. Akhirnya kodok2 tesebut sedar bahwa saat di bawah tadi kodok tuli itu menganggap mereka telah memberikan semangat kepadanya.

sobat FiGhTeR's, Kekuatan hidup dan mati ada di lidah. Kekuatan kata-kata yang diberikan pada seseorang yang sedang “jatuh” justeru dapat membuat orang tersebut bangkit dan membantu mereka dalam menjalani hari-hari.

Kata-kata buruk yang diberikan pada seseorang yang sedang “jatuh” dapat membunuh mereka. Hati hatilah dengan apa yang akan diucapkan. Suarakan ‘kata-kata kehidupan’ kepada mereka yang sedang menjauh dari jalur hidupnya. Kadang-kadang memang sulit dimengerti bahwa ‘kata-kata kehidupan’ itu dapat membuat kita berfikir dan melangkah jauh dari yang kita perkirakan.

Semua orang dapat mengeluarkan ‘kata-kata kehidupan’ untuk membuat rakan dan teman atau bahkan kepada yang tidak kenal sekalipun untuk membuatnya bangkit darikeputus-asaanya, kejatuhannya, ataupun kemalangannya.

Sungguh indah apabila kita dapat meluangkan waktu kita untuk memberikan semangat kekuatan bagi mereka yang sedang putus asa dan jatuh KARENA TIDAK SETIAP DIRI KITA DILAHIRKAN UNTUK MENJADI BAIK SELAMANYA, ATAU BURUK SELAMANYA.....

HANYA DENGAN UKHUWAH DAN KEBERSAMAAN, KITA AKAN DAPAT MELEWATI TIAP FASE KEHIDUPAN INI....

YAA RABB, FAWATSIQILLAHUMMA RABITATAHA.....IKATKANLAH HATI HATI INI DENGAN SIMPULMU YANG KOKOH.....(Dedicated 2 all of my friends, lets get started it!)

Kisah EmPaT LiLin


sobat, Ada 4 lilin yang menyala.

Sedikit demi sedikit habis meleleh.

Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka.

Yang pertama berkata:
“Aku adalah Damai.”
“Namun manusia tak mampu menjagaku, maka lebih baik aku mematikan diriku saja!”

Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin padam.
Yang kedua berkata:
“Aku adalah Iman.”
“Sayang aku tak berguna lagi.”
“Manusia tak mau mengenaliku, untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala.”
Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.

Dengan sedih giliran Lilin ketiga bicara:
“Aku adalah Cinta”
“Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala.”
“Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku berguna.”
“Mereka saling membenci, malah membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya.”

Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin ketiga.

Tanpa terduga…

Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga Lilin telah padam.

Kerana takut akan kegelapan itu, si anak berkata:
“Eh apa yang terjadi?? Kalian harus tetap menyala, aku takut akan kegelapan!”

Lalu si anak menangis tersedu-sedu.

Lalu dengan terharu Lilin keempat berkata:

“Jangan takut,
Janganlah menangis, selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga Lilin lainnya:

” Akulah H A R A P A N “

Dengan mata bersinar, si anak mengambil Lilin Harapan, lalu menyalakan kembali ketiga Lilin lainnya.

Apa yang tidak pernah mati hanyalah H A R A P A N yang ada dalam hati kita. Semoga ia dapat menjadi alat, seperti si anak tersebut yang dalam situasi apapun mampu menghidupkan kembali Iman, Damai, Cinta dengan HARAPAN-Nya!

sobat.....seringkali kita mematikan kedamaian dimuka bumi ini dengan kesombongan, sering kita mematikan keimanan dengan hawa nafsu kita....dan tak jarang kita menduakan cinta Haqiqi dengan selain-Nya......

karena itu, selalu sematkan HARAPAN didalam hati terdalammu sobat, harapan untuk dapat menjadi hamba yang berbakti kepadanya, meskipun alpa dan lupa seringkalli datang menyapa....

karena...

hanya dengan harapan itulah, kita bisa menghidupkan damai, iman dan cinta dalam diri kita kepada-Nya....

selalu berharaplah kawan untuk menggapai RIDHONYA....

Jumat, 05 Oktober 2007

Hikmah tentang cinta


Alkisah, di suatu pulau kecil tinggallah berbagai benda abstrak ada CINTA, kesedihan, kegembiraan, kekayaan, kecantikan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu.

Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri. CINTA sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tidak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air semakin naik membasahi kakinya.

Tak lama CINTA melihat kekayaan sedang mengayuh perahu, �Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!,� teriak CINTA �Aduh! Maaf, CINTA!,� kata kekayaan �Aku tak dapat membawamu serta nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini.� Lalu kekayaan cepat-cepat pergi mengayuh perahunya. CINTA sedih sekali, namun kemudian dilihatnya kegembiraan lewat dengan perahunya. �Kegembiraan! Tolong aku!,� teriak CINTA. Namun kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tak dapat mendengar teriakan CINTA. Air semakin tinggi membasahi CINTA sampai ke pinggang dan CINTA semakin panik.

Tak lama lewatlah kecantikan �Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!,� teriak CINTA �Wah, CINTA kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu pergi. Nanti kau mengotori perahuku yang indah ini,� sahut kecantikan. CINTA sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itulah lewat kesedihan �Oh kesedihan, bawlah aku bersamamu!,� kata CINTA. �Maaf CINTA. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja..,� kata kesedihan sambil terus mengayuh perahunya. CINTA putus asa.

Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara �CINTA! Mari cepat naik ke perahuku!� CINTA menoleh ke arah suara itu dan cepat-cepat naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya. Di pulau terdekat, CINTA turun dan perahu itu langsung pergi lagi. Pada saat itu barulah CINTA sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa yang menolongnya. CINTA segera bertanya pada penduduk pulau itu. �Yang tadi adalah WAKTU,� kata penduduk itu �Tapi, mengapa ia menyelamatkan aku? Aku tidak mengenalinya. Bahkan teman-temanku yang mengenalku pun enggan menolong� tanya CINTA heran �Sebab��HANYA WAKTULAH YANG TAHU BERAPA NILAI SESUNGGUHNYA DARI CINTA ITU�

Maka dari itu berproseslah akhi wa ukhti....karena cinta yang hakiki dan pasti mendapat balasan hanyalah cinya pada-Nya, dan hanya waktulah yang memisahkannya......BERSABARLAH UNTUK CINTA YANG HAKIKI, KARENA YAKINLAH BAHWA SEGALANYA AKAN INDAH PADA SAATNYA(taken from dudungnet)